Jalan Lapangan Nasional Kajen Kab. Pekalongan

SELAMAT DATANG DI BLOG KAMI
KALAU TAK KENAL MAKA TAK SAYANG

JL. Lapangan Nasional Kajen
Kabupaten Pekalongan


Sabtu, 16 Juli 2011

LOMBA GUGUS KKG TK



SABTU, 16 JULI 2011

Gugus KKK TK   “ KUNCUP MEKAR “ Dengan TK INTI TK Negeri Pembina Kabupaten Pekalongan  dan enam TK Imbasnya,  mewakili Kabupaten Pekalongan dalam Lomba Gugus KKG TK, Tingkat Propinsi.
TK Imbas Gugus KKG TK “ Kuncup Mekar” :
1.       TK PGRI Gandarum
2.       TK Muslimat Gandarum
3.       TK Aisyiyah Gandarum
4.       TK Aisyiyah Tambakroto
5.       TK Arrohmah Tambakroto
6.       TK Nusa Indah Kalijoyo

KOMPONEN YANG DINILAI ADALAH :
1.       Menejemen Gugus
2.       Menejemen TK
3.       Sarana dan prasarana
4.       Kegiatan Belajar Menagajar
5.       Peran serta masyarakat

Tim Penilai dari Propinsi Jawa tengah :
1.       Ibu Suliyem
2.       Ibu Dra. Marliyah
3.       Ibu Arum Purwanti
4.       Ibu Sri Margiyanti
5.       Bpk. Drs. Mugiyono

Peserta  se Jawa Tengah :
1.       Ex Karesidenan Semarang
2.       Ex Karesidenan Pekalongan
3.       Ex Karesidenan Kedu
4.       Ex Karesidenan Wonogiri
5.       Ex Karesidenan Pati
6.       Ex Karesidenan Banyumas
 I


FOTO KEGIATAN LOMBA GUGUS KKG TK TINGKAT PROPINSI JAWA TENGAH
DI TK INTI TK NEGERI PEMBINA KABUPATEN PEKALONGAN















































Rabu, 13 Juli 2011

MENGATASI ANAK KERAS KEPALA

Rabu, 13 Juli 2011




MENGATASI ANAK  KERAS KEPALA

Beberapa orang tua mengeluh tentang sifat anaknya yang keras kepala. Mereka bingung bagaimana cara menasihati mereka. Bila dilarang untuk melakukan sesuatu mereka akan mengamuk, atau bahkan melawan. Ada beberapa tips yang dapat di lakukan untuk mengatasi anak yang keras kepala.



1. Lihat diri kita
Kadang kita tidak menyadari bila buah hati kita memiliki hati yang keras, salah satu sebabnya adalah diri kita sendiri. Bila kita memiliki hati yang keras, sukar dinasihati, tentu saja secara tidak langsung itu juga akan menular pada diri buah hati kita. Bayangkan saja, pada saat anda dinasihati oleh orang tua anda, anda malah melawan, dan tidak mematuhinya. Atau pada saat pasangan kita menasihati kita, kita malah asyik nonton TV, dan tidak memperhatikannya. Bila setiap hari buah hati kita melihat hal ini, tentu lama kelamaan buah hati kita akan menirunya. Bila kita saat ini terlalu sombong, marilah kita merendahkan hati kita. Bila kita kurang mau mendengarkan orang lain, maka marilah kita mulai saat ini belajar mendengarkan. Supaya kita pun juga akan semakin mengerti segala kebutuhan buah hati kita, dengan mau dan menyediakan waktu untuk buah hati kita.

2. Ada ”Kebutuhan” yang Tidak Terpenuhi
Hal ini mungkin salah satu buah dari sikap kita yang kurang mau mendengarkan dan mengeraskan hati. Sifat tersebut bisa berimbas pada tidak terpenuhinya kebutuhan sang buah hati. Kebutuhan seorang anak sebenarnya tidak banyak. Mereka menginginkan perhatian dan kasih sayang kita sebagai orang tua. Kasih sayang dan perhatian yang cukup akan meminimalisir kebutuhan anak-anak pada “materi”. Jadi kalau anak mulai minta ini itu, mudah merengek, dan cepat bosan terhadap apa yang dia beli, itu sebenarnya sebagai ungkapan atau pengaruh dari adanya bagian hati mereka yang kosong. Dan sebenarnya bagian hati yang kosong tersebut hanya bisa diisi dengan kasih sayang dan kehangatan yang ada di dalam sebuah keluarga.


3. Salurkan Hobinya
Setiap anak tentu memiliki bakat dan minat yang berbeda. Sebagai orang tua yang cermat, kita harus mengerti tentang hal ini. Misalnya bila buah hati kita suka mencoret-coret di atas kertas, mulailah mencoba memasukkan buah hati kita pada sanggar-sanggar melukis. Anak-anak yang normal, biasanya memiliki “kelebihan tenaga”. Itulah kenapa kita sering melihat anak-anak susah untuk diam. Dia akan selalu bergerak, dan mencari keasyikan yang bisa dia lakukan. Jadi arahkanlah “sisa tenaga” yang ada di dalam diri sang buah hati. Hal ini akan sangat bermanfaat supaya emosi mereka bisa diarahkan kepada hal-hal yang positif. Hal ini akan sangat mengurangi pengaruh-pengaruh negative dari luar yang bisa menyebabkan mereka gampang marah, gampang merasa bosan, gampang sedih, dan sifat-sifat negative lainnya.

4. Jadilah orang tua yang bijak
Kebijakan orang tua sangat bergantung pada kepekaan orang tua pada buah hatinya. Orang tua yang bijak selalu berusaha melakukan yang terbaik dan memberikan pilihan terbaik kepada sang buah hati. Yang terbaik bagi anak, kadang bukanlah yang terbaik bagi orang tua. Disinilah terkadang kita temukan kesalahpahaman antara orang tua dan anak. Agar pilihan orang tua dan anak bisa selaras, perlu sekali adanya komunikasi yang intens. Disinilah waktu anda sangat dibutuhkan. Bukan banyaknya waktu yang anda berikan kepada anak, melainkan kualitas kebersamaan anda pada anak. Agar kesehatian antara orang tua dan anak bisa terjaga, kita bisa melakukan komunikasi dari hati kehati, dan tentunya tidak harus dalam suasana yang serius. Kita bisa melakukannya dengan sering-sering menelepon buah hati kita, sharing pada saat makan bersama, melakukan kegiatan bersama (seperti membersihkan rumah bersama), dan masih banyak hal lain yang bisa kita lakukan. Dari kedekatan inilah, anda akan semakin memahami buah hati anda. Sehingga pemikiran kita dengan sang buah hati kita pun bisa menyatu, dan meminimalisir kesalahpahaman yang biasanya terjadi karena adanya “batas” antara orang tua dan anak. Dan dari kedekatan inilah, anda bisa menasihati anak dengan bijak.

5. Tidak Mempermalukan Anak di Depan Umum
Kadang ada orang tua yang “tidak tahu tempat” saat menasihati anak. Sudah di tempat umun, dengan suara keras,”Kamu ini bisa nggak sih?!!” Saat menasihati anak, akan lebih baik bila kita menasihatinya di tempat yang rahasia dan dengan suara lembut. Jangan memberikan larangan, melainkan himbauan. Jangan berkata,”Kamu tidak boleh menggambari di tembok”. Tetapi..”Kalau kamu suka menggambar besok Papa belikan buku gambar yang besar.” Mengharapkan anak berubah dengan mempermalukan mereka di tempat umum bukanlah cara menasihati yang baik. Karena pada saat itu juga, kita sudah mengajarkan kepada anak kalau mempermalukan orang lain di tempat umum adalah sesuatu yang “halal”.

6. Tidak Memaksa
Bila saya boleh bertanya pada anda,”Maukah anda dipaksa melakukan sesuatu meskipun itu adalah sesuatu hal yang anda suka?” Saya sendiri pernah dipaksa teman saya memakan Pizza di rumahnya, namun dengan nada yang tidak mengenakkan dan “seperti bos”. Tidak tahu kenapa, Pizza yang merupakan salah satu makanan favorit saya menjadi seperti sulit untuk ditelan. Begitulah yang terjadi pada buah hati kita. Kita harus belajar mengatakan sesuatu kepada buah hati kita dengan lembut tanpa ada unsur pemaksaan. Kita harus belajar mengajak daripada menyuruh. Kenapa? Karena menyuruh berarti meminta seseorang melakukan sesuatu dan itu harus dilakukan sedangkan kita sendiri tidak mau melakukan hal yang sama. Sedangkan mengajak, adalah meminta seseorang melakukan sesuatu dan mau menjadi satu dengan orang yang kita minta dengan prinsip kebersamaan.

7. Saat Yang Tepat Saat menasihati
Pernahkan anda diajak makan pada saat anda masih merasa sangat kenyang? Pernahkan anda diajak temen jalan-jalan, pada saat anda dalam kondisi sangat lelah? Nah… “Timing” adalah sesuatu yang penting dan perlu kita perhatikan pada saat kita hendak menasihati buah hati kita. Pilihlah saat yang tepat dimana kita bisa mentransfer “ilmu moral” kita kepada buah hati kita, tanpa dia merasa terpaksa. Dan tentu saja hal ini masih sangat berhubungan dengan tips nomor 4. Contohnya adalah dengan mengajak sang buah hati untuk jalan-jalan. Setelah dia merasa senang, dan merasa lapar, anda bisa mengajak makan bersama. Dan pada saat itulah anda bisa mengobrol dan mengatakan harapan-harapan anda pada sang buah hati. Misalnya dengan mengatakan,”Mama suka kalau kamu berdandan rapi. Kamu kelihatan cantik sekali.” Atau dengan memujinya,”Wah… Anak mama sudah besar dan tambah dewasa, sudah bisa makan sendiri.” Dengan pancingan-pancingan seperti itu, biasanya anak akan menjadi lebih tertarik untuk mau mendengarkan nasihat anda, sehingga untuk kedepannya mereka pun bisa berubah sedikit demi sedikit.

Karya Kak Zepe, lagu2anak.blogspot.com

Minggu, 10 Juli 2011

CARA MENGHADAPI RENGEKAN ANAK


4  ( EMPAT )  CARA  MENGHADAPI   RENGEKAN  ANAK
Ketika anak mulai merengek saat sedang berkunjung ke mal atau di acara keluarga, rasanya Anda ingin pulang saja. Sayangnya, ini mungkin hanya dapat menjadi solusi sementara. Sebab, anak biasanya merengek karena menginginkan sesuatu dan apabila hal ini tidak dihadapi dengan tegas, ia akan terus melakukan ini kapan pun ada kesempatan.
"Kebiasaan merengek umumnya akan semakin menjadi pada saat anak mencapai usia 4 tahun, dan dapat terus berlanjut hingga usia sekolah," kata Michele Borba, psikolog. Inilah empat tindakan yang harus selalu diingat orangtua saat menghadapi anak yang sedang merengek.

1. Jangan beri toleransi
Katakan pada anak bahwa Anda tidak mau mendengarkannya kecuali bila dia mau bicara tanpa merengek. Anda bisa berkata tegas, "Ibu tidak bisa mengerti kata-katamu kalau cara bicaranya seperti itu. Coba bilang kamu mau apa dengan suara yang lebih manis." Lalu, berjalanlah menjauh atau balikkan badan, jangan perhatikan anak hingga dia mau bicara dengan lebih sopan.
"Tujuan anak merengek biasanya untuk mendapatkan perhatian orangtua. Karenanya, hindari memperlihatkan wajah kesal atau melayani rengekannya. Ingatkan juga diri Anda untuk tidak memperlihatkan ekspresi seperti mengangkat alis, merengut, atau cemberut. Ekspresi ini menandakan Anda memerhatikan perilakunya dan merasa terganggu," papar Borba lagi.

2. Memberi contoh yang benar
Jika anak belum paham seperti apa cara meminta yang baik, Anda dapat memberi contohnya. Perlihatkan suara Anda ketika merengek, lalu beri contoh juga bagaimana Anda mengatakannya dengan lebih baik. Mintalah dia untuk mengikuti Anda. Dengan begitu, dia akan belajar bahwa merengek itu tidak terdengar menyenangkan.

3. Puji dia saat sudah berkata dengan sopan
Begitu akhirnya dia dapat mengutarakan keinginannya dengan lebih baik, Anda perlu memberinya pujian. Ingat, dia butuh banyak usaha untuk melakukannya. Selain itu, pujian Anda juga dapat membuatnya jadi lebih ingin menyuarakan keinginan melalui cara yang baik ketimbang merengek. Karenanya, katakanlah "Nah, bagus. Sekarang suara kamu kedengaran lebih manis, kan?"

4. Langsung berikan konsekuensi
Anak masih saja merengek? Jatuhkan konsekuensi segera dan jangan tunggu sampai pulang ke rumah, bila Anda sedang berada di tempat umum. Segera hentikan kegiatan apabila kejadiannya di rumah, atau bila di tempat umum segera tinggalkan tempat itu begitu anak mulai merengek. Selain itu, hindari memberi ancaman yang tidak masuk akal karena ini hanya akan membuat anak berpikir bahwa Anda tidak sungguh-sungguh marah padanya.
KOMPAS.com -